Ahmad Syauqi merupakan sosok yang sangat berpengaruh dalam kebangkitan puisi Arab pada masa modernBeliau diberikan gelar sebagai Pangeran Penyair pada tahun 1927 M karena penyair pada masanya berjanji setia kepadanya atas emirat puisiAhmad Syauqi dikenal memiliki bakat puitis yang unik, dia tidak menemukan kesulitan ketika menulis puisi, Itulah sebabnya dia adalah salah satu penyair Arab modern yang paling mahsyur, sehingga hasil puisinya mencapai apa yang hampir tidak pernah dicapai oleh penyair Arab modern lainnya, karena jumlah syairnya yang melimpah melebihi 23.500 syair.

Biografi Ahmad Syauqi

Beliau memiliki nama panjang yakni Ahmad Syauqi bin Ali bin Ahmad Syauqi. Ada beberapa pendapat mengenai tahun kelahiran Ahmad Syauqi. Menurut Abas Khan beliau lahir pada tahun 1868 M. Sedangkan menurut Syauqi Dhaif, Ahmad Syauqi lahir pada tahun 1869 M. Dan menurut Achmad Atha’illah, Ahmad Syauqi lahir di Mesir pada tanggal 12 Oktober 1868 M. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Beliau berasal dari latar belakang dari keluarga bangsawan. Ahmad Syauq memiliki darah Turki dan Arab dari nasab ayahnya. Sedangkan dari ibunya ia memiliki darah Yunani dan Circassia.

           Pada umur 4 tahun, Ahmad Syauqi menempuh kehidupan di Kuttab dan memiliki guru bernama Syaikh Sholah. Pada saat itu beliau menghafal hampir semua puisi-puisi karangan penyair di masa itu. Kemudian beliau melanjutkan Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah  dan Madrasah Tsanawiyah At-Tajhizah di Mesir. Di Tsanawiyah inilah mulai muncul jiwa nasionalisme beliau karena pertemuannya dengan anak anak bangsa dari berbagai daerah dan juga belajar sistem demokrasi.

Pada tahun 1885, Ahmad Syauqi melanjutkan pendidikan ke sekolah hukum. Beliau juga mengambil jurusan penerjemahan. Disinilah pertemuan beliau dengan Muhammad Al-Basiyuni yang merupakan seorang penyair terkenal, pengajar bahasa arab,juga pengampu mata kuliah ilmu hukum. Beliau mengagumi kepiawaian Ahmad Syauqi dalam melantunkan puisi puisi yang indah. Karena kekaguman beliau terhadap Ahmad Syauqi, beliau mengajak Ahmad Syauqi sebagai upaya kaderisasi ke pertemuan sastra dan budaya. Dan atas saran beliaulah, Ahmad Syauqi melanjutkan studinya ke Perancis pada tahun 1887.

Setelah dikirim oleh Khedive Taufik ke Perancis, Ahmad Syauqi melanjutkan studi di Universitas Montpellier dan mengambil jurusan hukum dan sastra. Selama tinggal di Perancis, Ahmad Syauqi sering membaca buku buku sastra serta mengunjungi pertunjukkan opera dan teater. Beliau juga mengirimkan puisi-puisi yang berisikan pujian-pujian kepada Khedive (gubernur). Dan pada tahun 1888 syair pertama beliau terbit di surat kabar Al-Waqa’I Al- Misriyyah.

Pada tahun 1893, Ahmad Syauqi kembali ke Mesir. Kemudian ketika Khedive Taufik wafat, gelar Khedive di berikan pada Abbas II. Pada awal masa pemerintahan ini, Khedive Abbas kurang memperhatikan puisi puisi dari Ahmad Syauqi. Namun, berkat saran dari penasehat Khedive, Butrus Gali kepada Khedive Abbas II maka diangkatlah Ahmad Syauqi menjadi penyair istana. Disinilah awal perjalanan karir kepenyairan dari sosok Ahmad Syauqi.

Pada saat Inggris menduduki Mesir, Ahmad Syauqi diasingkan di Spanyol karena dianggap berbahaya. Di tempat pengasingan inilah muncul jiwa nasionalisme beliau. Jiwa nasionalisme tersebut muncul karena Ahmad Syauqi melihat betapa jayanya arab dahulu dari peninggalan peninggalan di Spanyol.

Pada tahun 1920, Ahmad Syauqi akhirnya kembali ke Mesir dan disana beliau disambut hangat oleh masyarakat Mesir.

        Ahmad Syauqi adalah seorang terpelajar yang mengabdikan dirinya untuk membaca buku-buku sastra Arab, terutama buku-buku penyair seperti: Abu Nawas, Al-Buhturi, Al-Mutanabi, dan Abu Tammam, dan buku-buku karya penulis-penulis besar seperti Al-Hayawan karya Al-Jahiz, di samping buku-buku tentang bahasa dan fiqih.

 Beberapa karya dari penyair Ahmad Syauqi :

1.     Diwan Al Shawqiyat Merupakan kumpulan-kumpulan judul isi puisi yang terdiri dari empat jilid. Jilid pertama ada 62 judul, jilid kedua 3 judul, jilid ketiga 61 judul dan terakhir jilid keempat terdapat 7 judul.

2.       Penyair Ahmad Syauqi juga menulis beberapa novel:

The Virgin of India: Ini adalah novel tentang sejarah Mesir kuno pada zaman Raja Ramses II yang ditulis pada tahun 1897 M.

- Ace Paper: Ini juga merupakan novel sejarah yang terjadi pada masa Sabur, raja Persia.

- Bentaur's Memoirs: Ini adalah novel yang berkisah tentang kepercayaan Mesir kuno bahwa beberapa orang dapat berbicara dengan burung dan mengekspresikannya dengan lidah mereka.

 Contoh Syair :

   Ahmad Syauqi juga menuliskan syair untuk mendiskripsikan kelahiran Nabi di dalam qosidah lainnya yang berjudul al-Hamziyah al-Nabawiyah;

ولد الهدى والكائنات ضياء # وفم الزمان تبسم وثناء

الرّوح والملأ الملائك حوله # للدّين والدنيا به بشراء

والعرش يزهو والحظيرة تزدهى # والمنتهى والسّدرة العصماء

 

Telah lahir sang (pembawa) petunjuk, maka semesta pun berpendar cahaya, demikian pula masa ikut tersenyum dan menyanjungnya

Jibril dan para malaikat mengelilinginya, bersamaan dengannya juga kebahagian bagi (penganut) agama dan (penghuni) dunia

Singgasana arsy begitu megah dan surga begitu mewah, serta sidaratul muntaha pula begitu kokoh

 

Lagi-lagi Syair Ahmad Syauqi menyebut cahaya, seakan-akan sosok Nabi ini tak bisa terlepas dari cahaya. Penggambaran dan majaz cahaya memanglah sangat sesuai dan pantas untuk disandingkan kepada nabi. Karena memang keberadaan Nabi bagaikan cahaya yang bersinar dalam kenyataannya maupun dalam kiyasannya.

     Kemudian Syair Ahmad Syauqi menambahkan dengan menyebutkan bahwa kelahiran sang Nabi ini adalah sebuah kabar bahagia yang tiada tara, dan untuk menggambarkan kebahagian yang sungguh dan sangat ini, dia menyebutkan masa atau zaman pun ikut dibuat berbahagia serta ikut menyanjung sang baginda. 

    Dan kali ini, bukan hanya cahaya saja yang disebutkan Syair Ahmad Syauqi. Melainkan juga tempat-tempat mulia seperti asry, surga, bahkan sidratul muntaha. Seakan-akan Syauqi memberikan sebuah kode bahwanya di sini, nabi adalah sosok yang sangat mulia dan sudah sepantasnya dan selayaknya apabila disandingkan dengan penyebutan tempat-tempat yang mulia pula seperti asry, surga, bahkan sidratul muntaha.

   Betapa indahnya, jika kita dapat membayangkan keadaan dimana saat itu nabi dilahirkan di dunia. Sosok yang mulia, seorang utusan yang menjadi pelita. Shollu alannabiy al-Musthafa.

 Wafatnya Ahmad Syauqi

Pangeran Penyair yang berada di puncak usia enam puluhan terkena aterosklerosis , dan pada tahun 1930 M ia juga terjangkit penyakit mendadak lain yang membuatnya lelah dan memaksanya untuk tidur selama empat bulan. Beliau meninggal pada tanggal 14 Oktober 1932 M, setelah pangeran penyair ini tergelincir. Orang-orang Arab di semua negara menerima berita kematian Ahmad Syauqi dengan sangat sedih bahkan mereka terus berbicara tentang puisi dan hidupnya untuk waktu yang lama. Bahkan hingga saat ini kita masih mengenang karya-karyanya yang penuh makna.


Referensi

Abarat, Lara. 2020, “ Memperkenalkan Ahmed Shawky” https://mawdoo3.com

diakses pada 28 Nopember 2021.

Khulqi, Aghnin. 2020, “ Meresapi Syair Ahmad Syauqi, Sebuah Syair Indah Yang Menggambarkan Kelahiran Sang Nabi” https://harakah.id/meresapi-syair-ahmad-syauqi-sebuah-syair-indah-yang-menggambarkan-kelahiran-sang-nabi/  diakses pada 28 Nopember 2021.

Komentar